dan pungutlah setiap remah kata yang kau tebar
masuklah kedalam labirin kegelapan
dengan merangkak
Buzzzz….
*denting piano dikejauhan*

dan pungutlah setiap remah kata yang kau tebar
masuklah kedalam labirin kegelapan
dengan merangkak
Buzzzz….
*denting piano dikejauhan*

Jika kesendirian adalah jalan ke arah pulang
Maka kita harus bertarung merebut waktu
Karena cahaya tak datang sendiri kecuali kau cari
Pada tiap-tiap kerinduan ada airmata sebagai pertanda
Aku atau engkau akan selalu seperti itu, rindu
Kita adalah pelayar yang tak mampu menghitung waktu
Masa lalu dan hari depan hanya angka tak bisa diraba
Bila waktu telah tiba yang tersisa hanya kerangka
Juga keranda sebagai pertanda bagi mereka di belakang kita
Aku dan engkau akan berjalan ke satu pintu, maut
Jika cinta telah membawamu dari waktu ke pintu kubur
Kepada siapa batu nisan kau titipkan di ujung rindu
Anak-anakmu penadah pilu atau istri yang segera berlalu
Sejarah adalah perbuatan sepanjang umur, terkadang pilu
Aku atau engkau akan selalu seperti itu, terbatas waktu
= capek =

:::Kepada Laut yang Kian Sangit
Demi lautan yang meninggikan cahaya di kaki langit
Kita hanya membaca kenangan sebagai buih, terlanjur pahit
Masa depan adalah lingkaran luka yang terus membelit
Ada atau tidaknya harapan seolah berada di celah sempit
Kemana lagi melanjutkan nasib dari janji setitis Adam
Tanpa senyuman cahaya pelangi menjadi buram
Sisa pelayaran hanya kepasrahan menuju karam
Ada atau tidaknya harapan sama gelapnya seperti malam
Demi lautan yang memiringkan cahaya di kaki langit
Kita telah melepas janji kepada laut yang kian sangit



Demi asin lautan yang menghitamkan kulit ari
Kesetiaan adalah bahasa lumba-lumba yang mestinya di mengerti sebagai cinta
Nasib anak negeri yang hanya bertengger sebagai janji
Telah menjelma bisa pari sejak hati terlukai
Kami bukan ikan-ikan mati yang bisa dilempar sebagai tumbal negara ini
Demi kesetiaan berpuluh tahun yang hanya menorehkan luka
Anak-anak hitam, bau bia, bau laut kini memanen kata merdeka
Sekali berucap lawamena selebihnya parang dan salawaku akan berkibar
Bahasa perlawanan sejak Nuku hingga Pattimura adalah bahasa kesetiaan
Kepada negeri airmata dan darah tertumpah sesungguhnya karena cinta
Tetapi Jakarta…
Tetapi Jakarta telah menarik balik pabrik gula di Laimo
Jakarta telah mengambil stasiun oceanologi dan menaruhnya di Bali
Jakarta telah membiarkan kami sejak 19 Januari 1999 tanpa hati
Lalu kesetiaan macam apalagi yang harus kami beri
Untuk hanya sekadar jadi petinju dan penyanyi di jantung negeri
Bukankah Soekarno bilang tanpa kami Indonesia tak jadi apa-apa
Seribu ton kopra yang kami bawa ke istana dimana kini harganya?
Maka demi asin lautan yang mengeritingkan rambut kami
Sumpah Pattimura muda telah kami ikrarkan di seluruh pelosok negeri
Biar peluru menembus kulit kami tetap menerjang
Meminta keadilan sebagai harga atas nasib anak negeri
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Selamat berjumpa kembali wahai para penghuni dunia maya
Hanya segelas kopi yang menemani pertemuan kita lagi
tanpa bertele-tele hanya ingin bertanya
gimana kabarmu wahai para guru
*masih puyeng2 ketinggalan mesin waktu dunia cyber*
*bingun liat dasbor WP yang ajaib*
yah pokoknya welkam bek buat daku sendiri dah….

Tak ada yang lebih pantas dilakukan selain bersabar
Ketika jangkar terangkat dan perahu harus berlayar
Jarak tempuh adalah kurva waktu yang sudah diukur
Melengkung di keningmu sebagai nasib yang kian uzur
Sementara angin semakin garang menggunting layar
Kau terus saja menghitung kenangan sebagai upah yang harus ku bayar
Mengorek-ngorek masa lalu dengan cakar burung nazar
Seolah masa depan adalah luka tanpa penawar
Apakah yang bisa ditilik sebagai kabar
Ketika jangkar terangkat dan perahu harus berlayar
Kenangan yang hilang adalah takdir setiap pelayar
Jejak seluruh umur hanya dermaga tempat bersandar
#Dino U#

Pulau Buru, pulau pembuangan Tapol dan Napol para mantan -yang katanya- PKI dengan sejuta misteri politik dan keindahan sekaligus geliat arus bawah yang ingin menonjok ke langit, pulau dengan gunung2 yang penuh dengan kayu putih meneteskan rupiah dan juga membawa kapital-kapital masuk menambah deretan kemiskinan.
Warning! Potonya banyak banget tapi lebih banyak narsisme yang bertebaran maap kalo bikin ngos-ngosan pakir benwit seperti sayah..
Pardidu Lage


sebenernya banyak pemandangan bagus dan tangan sayah sudah gatal pengen berhenti untuk klak-klik dikit tapi karena emang ga ada rencana mbuat motret2 selain hanya sekedar jalan2 makan kelapa muda setelah itu pulang jadi yah akhernya dapat dikit doang.. *uh semoga laen kale bisa santai dan motret sepuasnya*
Maap bagi sesam Pakir Benwit